Selasa, 17 Januari 2012

Siapa yang mampu menghentikan waktu?



Sejak lama aku dan isteriku sepakat bahwa jika sudah pensiun kami akan kembali ke alam desa. Kami sudah lelah menjalani kehidupan di kota besar, berdesak-desakan dengan para tetangga yang serakah. Bahkan membuka jendela saja sudah tidak bisa - karena setiap orang membangun rumahnya secara berhimpitan.

Di desa, kami akan membangun rumah mungil dari kayu, dengan jendela besar tanpa teralis yang terbuka lebar, dikelilingi taman bunga yang luas sehingga kami dapat menghirup udara segar seberapa banyak yang kami inginkan. Di depan dan samping kiri rumah akan kami buat kolam ikan yang luas. Bagian sebelah kanan digunakan untuk menanam sayuran, sedang di bagian belakang akan ditanami pohon buah-buahan rambutan, langsat, durian, cempedak, mangga, jeruk dan salak. Di sela-sela pepohonan itu akan digunakan sebagai area peternakan unggas.

Demikianlah, sejak awal tahun lalu aku bersama Mala mulai mencurahkan pikiran, tenaga dan juga uang untuk mengubah tempat ini menjadi tempat yang sesuai dengan impian kami. Memang tidak semudah yang kami bayangkan. Kendala utama ialah karena tingkat kesuburan tanah di sini sangat rendah sehingga kurang memadai untuk digunakan sebagai lahan bercocok-tanam.

Dahulunya lahan ini merupakan bekas kebun karet milik penduduk, kemudian dijadikan ladang tempat menanam padi, sehingga zat hara pada tanah sudah hampir habis. Sebagian besar permukaan tanah mengandung gambut dengan tingkat keasaman yang tinggi, juga terlalu mudah longsor untuk digunakan sebagai lokasi kolam ikan. Meskipun demikian kami tetap memilih tempat ini karena ternyata juga punya kelebihan, yaitu terletak di daerah lintasan mata air, menurut keterangan penduduk setempat tidak pernah kekeringan kecuali pada musim kemarau panjang, namun juga tidak pernah dilanda banjir meski pada musim penghujan. Posisinya yang terletak di kaki lembah yang diapit oleh dua bukit di sebelah kiri dan kanan membuat air mudah dikelola supaya mengalir dengan deras. Hal itu sangat baik untuk mempercepat pertumbuhan ikan, sekaligus merupakan nilai tambah dari segi estetika.

Alasan lain bagi kami memilih tempat ini adalah karena suasananya yang sunyi dan tenang, terletak sekitar 6 kilometer dari pusat kota. Hanya sesekali ada mobil atau sepeda motor melintas lewat. Sebagian banyak dari mereka yang lewat adalah para petani penyadap karet atau anak sekolah yang sengaja memilih jalan ini supaya tidak terjaring razia, karena tidak punya surat ijin mengemudi atau tidak pernah membayar pajak tahunan kendaraan bermotor. Ada juga beberapa mobil bak terbuka milik para pengusaha spanyol (separo nyolong), yaitu pengusaha yang menjadi cukong penebangan kayu secara liar. Meski pemerintah sudah melarang, mereka terus saja merambah hutan, menebang pohon sesuka hatinya, dibelah di tempat dengan chainsaw untuk dijadikan bahan bangunan, kemudian diangkut ke kota dengan cara terang-terangan. Para aparat yang berwenang mengawasi hal itu seolah menutup mata, berlagak seolah-olah tidak tahu, bahkan sangat mungkin ada permainan pat-gulipat di antara sang cukong dan aparat.

Sekitar tiga ratus meter dari tempat ini ke arah Timur ada perkampungan penduduk dengan jumlah rumah lebih kurang tigapuluh buah. Sedangkan ke arah Barat ada sekitar tujuh atau delapan buah rumah dengan jarak antara rumah satu ke rumah yang lain sekitar lima puluh sampai seratus meter. Secara administratif daerah ini tercakup dalam kawasan rencana perluasan kota Tamiang Layang dan disebut jalan lingkar luar, sengaja dibangun sebagai jalan alternatif untuk menghindar dari kemacetan lalu lintas di pasar Temanggung Djayakarti Tamiang Layang.


Masalah paling berat bagi aku dan Mala ketika baru pindah ke sini adalah faktor usia dan human behavior. Sebesar apapun semangat kami, tetap harus diakui bahwa aku dan Mala sudah berusia lanjut, sehingga kami bukanlah merupakan pekerja yang handal untuk menaklukkan alam. Aku memang merupakan putra asli suku Dayak Ngaju yang lahir di pedalaman Katingan, namun sejak usia sekolah menengah aku pergi meninggalkan kampung halaman dan merantau ke kota besar. Aku tidak punya pengalaman yang memadai untuk beralih profesi menjadi petani. Setelah menyelesaikan ’sebagian’ pendidikan program S1 di Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, aku diterima bekerja pada sebuah bank umum milik negara dan ditempatkan pada salah satu cabangnya di kota Tanjungredeb, Kalimantan Timur. Selama lebih dari 31 tahun aku menjalani rutinitas kehidupan yang itu-itu saja. Setiap hari bekerja dari jam 07.00 pagi sampai jam 20.00 malam, menempati ruangan kantor yang bersih dan sangat nyaman dengan udara sejuk yang diatur oleh mesin pada suhu 23 derajat Celcius. Kulitku hampir tidak pernah disengat oleh terik matahari.

Adapun Mala, meski orang tuanya berasal dari suku Dayak Maanyan[i], namun ia lahir dan dibesarkan di Balikpapan, satu-satunya kota paling besar dan bertaraf internasional di pulau Kalimantan. Bagi kami, hidup di tengah alam pedesaan merupakan sebuah pengalaman baru. Meskipun demikian, semua kendala dan hambatan tidaklah membuat kami tawar hati. Malah kami anggap sebagai tantangan. Kami harus mampu memanfaatkan kondisi dan kemampuan yang ada sehingga dapat memberikan hasil sesuai dengan harapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar